Penyakit Ketinggian (Altitude Sickness)

Apa itu Altitude Sickness?

Altitude sickness atau penyakit ketinggian adalah kondisi tidak normal yang terjadi pada tubuh ketika Anda berada di tempat dengan ketinggian tinggi. Penyakit gunung akut alias Acute Mountain Sickness (AMS) adalah bentuk paling umum dari penyakit ketinggian.
Penyakit Ketinggian (Altitude Sickness)


Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala Altitude Sickness?

Gejala altitude sickness dapat berupa Sakit Kepala, Mual, Muntah, sesak napas, kesulitan tidur, Pusing, kelelahan. Gejala yang ada biasanya bertahan selama 6-48 jam setelah pendakian,

Dalam beberapa kasus yang langka, altitude sickness dapat pula menyebabkan akumulasi cairan pada otak dan paru-paru (Pulmonary edema and cerebral Edema), menyebabkan berbagai penyakit serius lain seperti:
  • Terdengar suara laiknya kertas yang ditarik saat bernapas
  • Kesulitan bernapas yang sangat parah
  • Batuk dengan cairan merah muda, berbusa
  • Linglung dan kesulitan berjalan
  • Kebingungan yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran
Gejala-gejala tersebut menunjukkan status pasien yang telah menyentuh ambang kritis dan perlu segera ditangani oleh pegawai medis.

Selain itu, masih terdapat juga beberapa ciri dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki keluhan yan sama, tolong konsultasikan kepada dokter Anda.

Penyebab

Apa penyebab Altitude Sickness?

Saat Anda berada pada suatu titik lokasi dengan ketinggian yang lebih tinggi, kadar oksigen pada udara akan berkurang. Sedangkan, tubuh Anda akan berusaha untuk menyesuaikan detak jantung dan pernapasan lebih cepat untuk menjaga penyebaran oksigen yang dibutuhkan tubuh. Apabila Anda melakukan pendakian secara terlalu cepat dalam waktu pendek, tubuh Anda tidak akan dapat beradaptasi dengan baik, maka dari itu altitude sickness dapat muncul.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk Altitude Sickness?

Beberapa faktor berisiko di bawah ini dapat memengaruhi kemungkinan Anda terkena altitude sickness, yakni:
  • Usia: orang yang muda lebih sering terkena efek altitude sickness dibanding orang tua
  • Habitat: apabila Anda tinggal di wilayah dataran rendah, seperti perkotaan pada dataran rata yang berada di dekat pantai dan tidak pernah mendaki gunung
  • Daya tahan tubuh Anda tidak baik
  • Pernah terkena penyakit paru-paru

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk Altitude Sickness?

Perawatan yang diberikan tergantung pada ketinggian dan tingkat keparahan gejala yang dialami. Biasanya, pertama-tama pasien harus dibawa ke tempat yang lebih rendah dengan segera untuk memulai terapi oksigen. Lalu, keluhan biasanya hilang setelah 1-3 hari istirahat. Selain itu, parasetamol dan aspirin juga dapat meredakan gejala-gejala yang tidak terlalu parah. Obat-obatan lain seperti cetazolamide dan nifedipine dikonsumsi jika gejala sudah memasuki level yang lebih parah.

Apabila muncul cairan otak pada pasien yang disebabkan oleh ketinggian, pasien harus langsung dibawa ke tempat yang lebih tinggi dan diberikan terapi rendah oksigen, lalu diberikan dexamethasone (sebuah steroid), untuk membantu mencegah kerusakan saraf dan menghindari gejala yang lebih serius termasuk kematian.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk Altitude Sickness?

Dokter akan mendiagnosis altitude sickness berdasarkan pengalaman Anda mengunjungi suatu lokasi dengan ketinggian yang tinggi dan pemeriksaan klinis dari gejala yang timbul. Umumnya, dokter akan menggunakan stetoskop untuk mendeteksi suara seperti gesekan pada paru-paru. Suara tersebut dapat menjadi pertanda terdapat suatu cairan paru-paru yang tumpah.

Dokter juga meminta Anda melakukan serangkaian tes sebagai berikut:
  • Tes darah
  • CT otak
  • X-ray pada bagian dada
  • ECG

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Altitude Sickness?

Berikut ini bentuk-bentuk gaya hidup sehat dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda menghadapi altitude sickness:
  1. Jangan melakukan kegiatan pendakian ke tempat yang tinggi terlalu cepat, setidaknya 2-4 hari agar tubuh Anda terbiasa
  2. Sebelum melakukan pendakian, Anda harus menemui dokter dan meminta instruksi mengenai apa saja obat-obatan yang harus dibawa untuk mencegah altitude sickness. Anda harus membawa acetazolamide sebelum pendakian dan terus menggunakannya. Namun, saat meminum obat ini, Anda mungkin mengalami efek samping seperti Mual dan mati rasa pada bibir, jari tangan, dan jari kaki
  3. Beristirahat dengan baik
  4. Minum air dalam jumlah yang banyak dan menambah jumlah karbohidrat dalam tubuh Anda untuk meminimalisir efek ketinggian
  5. Saat Anda berada di ketinggian, bergerak dengan segera ke tempat yang lebih rendah apabila Anda merasa mengalami gangguan saraf dan pernapasan
  6. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Sumber: Kamus Penyakit

Post a Comment

0 Comments